Musim Tanam Tiba, Petani Berjuang Dalam Keterbatasan Air

Musim Tanam Tiba, Petani Berjuang Dalam Keterbatasan Air

Keraskulon.Ngawikab.id_Musim tanam kali ini terasa lebih berat bagi petani di Desa Keraskulon, Kecamatan Gerih. Karena pada musim tanam kali ini sudah tidak bisa untuk mendapatkan air hujan dan juga air dari saluran pun sudah mulai mengering. Terhitung mulai awal bulan Agustus, saluran yang mengairi area persawahan di Desa Keraskulon sudah tidak mengalir lagi.

Kondisi saluran yang mengering

Untuk mengerjakan sawah sebelum tanam, petani mengandalkan sumur-sumur buatan atau sumur pompa yang ada di area persawahan. Hal ini terasa berat bagi petani yang tidak mempunyai sumur sendiri, karena harus membeli pada orang lain. Dengan kisaran harga per jamnya Rp. 15.000,-. Padahal dalam sekali garap sampai tanam, untuk luasan sawah ½ bahu (3.600 m²) bisa menghabiskan air ± 48 jam.

Sumur pompa yang jadi tumpuan petani

Setelah tanam pun, petani juga masih harus berjuang dengan keterbatasan air. Karena pada masa awal tanam, tanaman padi membutuhkan air dalam jumlah yang cukup. Selain untuk mempercepat pertumbuhan tanaman padi, juga untuk menghambat pertumbuhan gulma (rumput) pada area persawahan.

Petani berharap agar musim hujan segera datang, dan saluran air segera mengalir. Karena bila keadaan terus seperti ini maka biaya untuk tanam akan banyak dan petani akan mengalami kerugian. Belum lagi volume air sumur pompa/bor pun semakin lama juga semakin berkurang.